Press Release:

PILGRIM

Pameran Tunggal Herry Dim

18 Juli – 18 Agustus 2024

Di Orbital Dago 

Jl. Rancakendal Luhur No.7 

Bandung

Pameran akan dibuka oleh ibu Jais Darga

Diantar “Rajah Ngarot” oleh Bah Enjoem Reak Tibelat dan Ine Arini

Pembukaan hari Kamis, 18 Juli 2024

jam 15.30 WIB

Artist Talk 18 Agustus 2024

Mulai Jam. 15.00 WIB

Pada pameran tunggalnya, Pilgrim, seniman Bandung multifacet Herry Dim menghadirkan lukisan-lukisan yang berdasar pada “Wayang Motekar,” sejenis wayang yang ia kembangkan sejak 1990-an. Kali ini, dengan menggunakan bantuan teknologi Artificial Intelligence (AI) sederhana, wayang-wayangnya ia pindahkan ke atas kanvas-kanvas. Karya-karya ini terlahir kembali sejak beberapa tahun terakhir, terutama ketika pandemi covid-19. Menyertai pameran Pilgrim di Orbital Dago, Herry Dim, yang juga seorang penulis produktif telah membuat catatan khusus mengenai proses kekaryaannya. Petikan catatannya tersebut adalah seperti di bawah ini:

PILGRIM oleh Herry Dim

Gambar-gambar Wayang Motekar

Wayang motekar mulai dikerjakan seiring dengan proses dan pementasan “Metateater: Dunia Tanpa Makna” pada tahun 1990. Ihwalnya karena dalam pementasan tersebut menggunakan media lukis di atas dua buah OHP (overhead projector) sepanjang pertunjukan, diantaranya sempat melibatkan Mamannoor (Alm), Arahmaiani, Bambang Subarnas, dan saya sendiri yang melukis bergantian di kanan dan kiri panggung. Keasyikan bermain-main dengan OHP itu terbawa ke rumah, bahkan selalu menjadi ‘mainan’ anak-anak yang ketika itu rutin berdatangan setiap sore untuk belajar menggambar ataupun menari. Saat bermain-main dengan OHP itulah bermunculan celoteh, canda, hingga semodel rangkaian cerita dari mulut mereka sendiri. Padahal yang dimainkan baru sebatas benda-benda seperti penghapus, pensil, robekan kertas, atau sekadar jari-jemari dan telapak tangan di atas bidang proyeksi OHP. 

Masih dari mulut mereka sambil bercerita seadanya, muncul pula nama-nama seperti Pademo, Magadon, Kadal Hejo, Jurig Jungkir atau Si Lidah Api. Berdasarkan itu barulah dibuat sketsa di atas kertas berupa manusia bermulut megafon untuk Pademo, selanjutnya Magadon berupa gajah gemuk, Kadal Hejo berupa reptil bertaring, dan manusia yang berjalan terbalik untuk Jurig Jungkir atau Si Lidah Api karena dari mulutnya menyembur api. Dari saya sendiri muncul gambar manusia berkepala kerbau sebagai penanda kekaguman pada Picasso yang telah menggambar “perkelahian banteng” kala usia sembilan tahun, lantas berlanjut pada studi panjang menggambar minotaur hingga lahirnya Guernica ketika ia berusia 46 tahun. Bahkan gambar inipun pada gilirannya diberi nama oleh anak-anak dengan sebutan Jelemun, akronim dari jelema munding (manusia kerbau). 

Wayang motekar generasi awal hanya berukuran tinggi sekira 10 – 12 cm, bahkan pernah bereksperimen dengan ukuran 7,5 cm; maksudnya agar cukup manakala dimainkan di atas alas kaca pantul OHP yang umumnya hanya untuk media tranparan ukuran A4 (21 x 29,7 cm). Baru pada wayang motekar generasi ke-2 dibuat kira-kira seukuran wayang kulit. Jumlah tokoh-tokohnya pun kian bertambah demi pemenuhan kebutuhan lakon “Si Acung di Alam Jelemun.” Muncul misalnya tokoh Acung, Kania, Indung, Emban, Ambu (Pohaci), Unggil, Popo, Kiku-kiku.

Selanjutnya ketika membawakan lakon “Si Acung jeung Kiara di Leuweung Dangiang” yang berlandas pada naskah drama anak-anak, “Kalpataru,” karya Saini K.M yang bernafaskan lingkungan hidup, bermunculan lagi karakter-karakter baru berupa burung seperti Cangkur, Mang Suren, Caladi, Si Goak. Tokoh gergasi pun mengalami penambahan seperti munculnya, Bobasan berwujud tikus yang korup sekaligus perusak hutan, Jelebi (jelema babi) yang berasal dari lukisan karya Alex Luthfi R, dan Depero yang suka mempermainkan nasib rakyat. Wayang motekar generasi awal sepenuhnya dimainkan oleh anak-anak yang ketika itu sekitar usia kelas 3 – 6 SD. Sejak pentas di TIM (2003) mulai masuk dalang yang ketika itu dimainkan oleh dalang wayang golek Riswa (Umar Darusalam Riswa Sunandar Sunarya), selanjutnya adalah dalang Sukmana yang bermain tunggal atau tidak lagi bersama anak-anak, dan terakhir untuk pentas di Teater Salihara (2022) dalangnya adalah Opick Sunandar.

Dari Wayang ke Kanvas

Sekira satu atau dua tahun sebelum datangnya pandemi Covid 19, mulai 2018, katakanlah sebagai saat penyelamatan dokumentasi wayang motekar. Maklum karena semua coretan asli sejak berupa sketsa hingga menjadi gambar acuan yang pernah dibuat, itu tak terurus alias cerai-berai entah ke mana serta kebanyakannya lagi rusak. Sebelumnya pernah juga dilakukan pendokumentasian dengan cara pemotretan atas wayang-wayang yang telah jadi, tapi setelah dilakukan berkali-kali relatif tidak didapat potret-potret yang bisa dikatakan memadai sebagai dokumentasi.

Langkah terakhirnya tidak ada jalan lain yaitu menggambar ulang sebanyak 24 tokoh wayang serta dekorasi lingkungannya semisal pohon, awan, gunung, dsb. Disebabkan pernah ada pengalaman ‘proyek’ pemotretan, diam-diam membimbing ke arah ‘kesadaran’ digitalisasi, dokumen tidak lagi berupa tumpukan kertas yang mudah rusak/hilang, melainkan tersimpan di cakram keras (hard disk). Maka, dalam hal kerja gambar ulang, ditempuhlah jalan menggambar dengan cara digital yaitu menggambar di komputer. Sangat tertatih-tatih mengingat semuanya dimulai dari nol. Terjadilah ‘learning by doing,’ sungguh tak mudah untuk pindah dari kebiasaan menggambar dengan pensil atau pena ke menggambar dengan cara menggeser-geserkan mouse. Cara inilah yang dilakukan hingga sekarang.

Sesungguhnya manakala masih mengerjakan gambar pertama, muncul perasaan ingin berhenti karena mengambar dengan cara “baru” ini terasa sangat repot, jauh berbeda dengan menggambar secara langsung menggunakan pensil di atas kertas. Selebihnya karena melihat jejak garisnya yang konstan, dingin, tak berwatak, takhidup. Tapi bersamaan dengan itu ada pula perasaan tanggung serta ada kebiasaan takmau berhenti kerja di tengah jalan, gambar pertama ini pun akhirnya saya selesaikan.

Sekadar catatan, gambar pertama ini adalah gambar gunungan yang memiliki tingkat kerumitan tertinggi dibanding gambar-gambar wayang motekar lainnya. Justru karena kerumitan ini pula saya kemudian merasakan betapa bergunanya bantuan teknologi komputer. Salasatu contohnya bahwa dengan bantuan komputer menjadi begitu mudah melakukan duplikasi gambar ataupun repetisi ornamentiknya. Pun ketika selesai dan hendak dituangkan ke atas media akrilik atau pvc transparan, komputer lagi-lagi memberi kemudahan termasuk dalam mengatur ukuran yang dikehendaki. Sementara itu pula materi gambar aslinya tersimpan dengan aman di dalam cakram keras, tinggal ditengok kemudian dicetak manakala dibutuhkan. Pada gilirannya perasaan jengah dan keinginan berhenti menggambar dengan komputer itu pun sirna.

AI vs Ketakterdugaan

Alkisah, Covid 19 sudah berlalu, sementara saya masih di dalam ‘penjara mengasyikan’ antara menggambar kembali karakter-karakter wayang motekar dengan bantuan Corel Draw serta membuat karya-karya gambar di atas kanvas. Seperti telah dikemukakan di atas, awalnya adalah hal yang berjalan begitu saja, taktersadari betul bahwa saya sudah menggunakan teknologi AI (Artificial Intelligence), meskipun untuk ukuran sekarang sudah termasuk AI yang paling primitif.

Kemudian saya ketahui bahwa dunia sedang ramai diskusi, debat, hingga celoteh ihwal AI. Isinya selalu dalam nada pertentangan semisal: Ancaman atau berkah? Seni palsu atau genuine? Imaji takberjiwa atau auratik? Seni murni atau robotik? Dsb. Saya sempat tercenung sekaligus tenggelam juga ke dalam pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tapi, sepanjang itu pula tidak/belum menemukan jawabannya yang memuaskan, sementara kerja terus berjalan, termasuk ‘gaul’ dengan AI kelas primitif itu. Akhirnya saya berkata dalam hati: “Kagok edan. Sudah, sekalian saja pakai dan masuki AI tersebut.” Maksudnya, ketimbang mencari-cari jawaban yang entah, dan kalaupun ada jawabannya tentulah jawaban orang lain; maka saya memilih jalan empirik, melakoni sendiri.

Gambar demi gambar di atas kanvas saya lakoni dan semuanya berdasarkan acuan gambar wayang motekar yang sudah tersimpan di memori komputer. Ada yang sekadar berdasar acuan objek atau sosok/tokoh wayang motekar saja, ada juga yang secara ekstrem (katakanlah) rancangannya dikerjakan terlebih dahulu di komputer dan kemudian dipindahkan ke kanvas. Manakala dikerjakan sepenuhnya di atas kanvas, diam-diam saya sering mengalami kemelesetan, ketaksempurnaan jika diukur berdasar presisi komputerisasi, terjadi pula perubahan keinginan di tengah jalan, dan munculnya faktor-faktor ketakterdugaan. Belakangan selama kerja, justru ‘ketaksempurnaan’ dan ‘ketakterdugaan’ itulah yang kemudian dinikmati. Rasanya, itulah ruangnya seni yang tak terlayani oleh AI.

Biodata

Herry Dim (lahir 19 Mei 1955) adalah seorang pelukis. Ia menjadi pelukis pertama Indonesia yang menggelar pameran tunggal di Palais de Nations, Jenewa, 20-24 November 2008.

Ia melukis sejak kecil, mulai giat betul melukis selepas SMA pada tahun 1973. Berbagai kegiatan melukis dia tekuni. Pada tahun 1975 ikut bergabung dengan Bengkel Pelukis Jakarta, dan diteruskan bergabung dengan Sanggar Garajas pada tahun 1976. Kemudian Herry Dim kembali ke Bandung pada tahun 1978, dan pada tahun 1983 bersama seniman-seniman lainnya mendirikan Kelompok Seniman Bandung. Dalam catatannya pada era 1990-an telah mengikuti pameran diantaranya sebagai berikut:

International Exhibition of Asian Artists (Bandung), Biennale Yogyakarta, Festival Istiqlal, Biennale Jakarta, Non-Aligned Countries Contemporary Art Exhibition3, Indonesian Contemporary Artists (Jakarta), Rites to the Earth yang bersambung dengan peristiwa “Ruwatan Bumi”, International Exhibition of Asian Artists (Kualalumpur), International Exhibition of Asian Artists (Fukuoka), Container 96: Art Across the Oceans (Copenhagen),  Indonesian Painters di Darga & Lansberg Gallery, Paris, 1998. “Senirupa Ritus – Ritus Senirupa” (1986), “Senirupa dan Sastra” (1991), “Menyongsong Millenium ke-3” (1993), “Instalasi 10 Biografi” (1993-94), Lukisan dan Instalasi “Sebuah Ruang Tamu Tak Berpenghuni” sebagai ungkapan keprihatinan atas peristiwa bredel tiga media cetak (1994), “Instalasi Bebegig” (1994), “gonjangganjingnegeriku” (1998 di Bandung dan 2000 di TIM Jakarta), Herry Dim pernah tinggal di Berlin selama 6 bulan. Sempat melakukan kegiatan seni di Mime Centrum dengan seniman setempat dan seniman Ethiopia.

Selain melukis Herry Dim mengerjakan pula artistik untuk seni pertunjukan (drama, tari, musik), seni grafis, desain grafis, seni instalasi, dan kadang-kadang menulis esei seni dan kebudayaan di berbagai media. Herry Dim pun tercatat sebagai penemu “wayang motekar,” sejenis seni teater bayang-bayang (shadow puppet theater) yang selama tiga millenium selalu tampil berupa silhouette (hitam putih) kini melalui tangan dan kreativitas Herry Dim menjadi bisa tampil berwarna.

Sisi lainnya, ia pun sangat aktif di dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan publik, pengejawantahan demokrasi, dan terutama aksi-aksi untuk lingkungan hidup semisal kegiatan-kegiatannya bersama Odesa Indonesia.