Press Release Orbital Dago Inaugural Exhibition – Perjalanan Senyap (Bahasa/Eng)

posted in: News | 0
Pameran Seni Rupa
 
“PERJALANAN SENYAP“
Pembukaan tanggal 6 Mei 2017, Jam 19.30 WIB
 
Pameran dibuka untuk umum :
7 Mei – 16 Juli 2017
 
Pameran buka setiap hari dari Selasa hingga Minggu. Jam 10.30 – 19.30 WIB
 
Libur tiap hari Senin.
 
Orbital Dago.
Alamat: Jalan Rancakendal Luhur No. 7. Bandung 40191
Map: https://goo.gl/maps/M6EUFjEvHVm
 
Orbital Dago adalah galeri seni rupa kontemporer yang baru dibuka dan berlokasi di Bandung Utara , tepatnya di Jl.Rancakendal Luhur.
 
Perjalanan Senyap merupakan pameran dalam rangka peresmian galeri Orbital Dago, yang mengundang 13 seniman untuk menafsirkan secara terbuka kepada teks karya Nightsea Crossing dari performans Marina Abramovich dan Ulay. Untuk mengembangkan makna – makna dan nilai sejarah suatu karya tersebut kedalam ungkapan visual para seniman sekarang, yang dikepung oleh derasnya produksi dan pusaran citraan. Juga mengaitkannya dengan persoalan otoritas dan identitas seniman yang individual seperti yang diyakini jaman Modern klasik yang kemudian dipahami ke dalam dalam era seni rupa hari-hari ini.
 
Dari tahun 1976 hingga 1988, Marina Abramovic (lahir pada tahun 1946 di Beograd) dan Ulay (lahir tahun 1943 di Solingen sebagai Frank Uwe Laysiepen) adalah sepasang kekasih, pasangan seniman yang tinggal dan bekerja bersama-sama. Kolaborasi ini menarik, bukan saja karena didasarkan pada prinsip kesetaraan mutlak antara dua seniman, sehingga mengatasi motif jenius dan perenungan mereka yang berjalan melalui sejarah seni, tetapi juga karena membuka dan membagi antara seni dan kehidupan , privat dan publik, menempatkan mereka untuk re-negosiasi. Karya serta performans mereka sebagai pasangan, banyak diteliti pada berbagai tingkat estetika dan sosial-politik kemungkinan dari hubungan interpersonal.
 
Nightsea Crossing adalah serangkaian dua puluh dua pertunjukan yang berlangsung antara tahun 1981 dan 1987 di lokasi yang sangat berbeda di seluruh dunia. Dengan setting (sering didalam museum, kadang-kadang diarea terbuka), tanggal, dan warna pakaian mereka bervariasi, tetapi mereka selalu menggunakan meja kayu mahoni yang sama dan dua kursi yang sama. Mereka menggambarkan performansnya sebagai berikut: "Nightsea Crossing adalah sebuah epik 90 hari di mana menjadi periode yang melibatkan suatu kecepatan dan keheningan , sebelum dan selama performans yang aktual. Performans itu terdiri dari tujuh jam sehari, berkonsentrasi sambil duduk diam tak bergerak dalam keadaan hening”.
 
Hari – hari ini, berbagai pertunjukan mereka hanya dapat diakses melalui dokumentasi foto-foto, rekaman video, atau berbagai tulisan laporan. Bahwa representasi fotografi jauh lebih pas untuk Abramovic dan Ulay daripada dokumentasi belaka , penampilan mereka menjadi sangat jelas dalam pameran di Galerie Michael Jannsen, di Berlin beberapa waktu lalu.
 
Dokumentasi berbagai seni performans, berupa fotografi, rekaman film dan video, atau kertas-kertas kerja para seniman dikumpulkan, di kemas dalam sebuah pameran maupun materi publikasi. Bahkan kemudian, beberapa museum dan kolektor, membeli arsip-arsip dengan harga tinggi. Maka terjadi ironi, Gilbert and George, Marina Abramovich dan Ulay, diawal tahun 70-an, mungkin yang mengawali, menggunakan medium artistik foto, grafis kemudian patung sebagai ekstensi atau perpanjangan dari aksi yang mereka lakukan.
 
Sebagai kemungkinan bentuk “dokumentasi” untuk menjadi strategi yang diperdagangkan dan dimiliki oleh para kolektor. Hal ini juga mengawali suatu gejala dimana, mitos bahwa seniman modern bekerja secara individual, unik, self-center akhirnya tidak menjadi absolut, banyak lubang di batas-batasannya. Produksi seni rupa kontemporer termasuk performans, menurut kritikus Kristine Stiles, dalam ulasannya tentang Performance (Nelson & Shiff, 2003: 88) mengemukakan, bahwa didekade 1980-an, istilah “performance” mulai menyajikan karya beragam dengan bentuk estetik, dari produksi hingga presentasi,serta penafsirannya. Performans menjadi sebagai suatu kategori dalam visual display, hal ini memberi hal baru bagi aspek komersial seni rupa.
 
Pada pameran ini, beberapa seniman diundang dengan mendekati teks atau jukstaposisi konsep maupun aspek tafsiran visual dengan karya Nightsea Crossing –nya Marina dan Ulay.
 
Ke-13 seniman yang menampilkan karya-karya adalah:
 
Aliansyah Caniago . Lahir di Bandung tahun 1987 , tinggal dan bekerja di Bandung.
Dita Gambiro . Lahir di Jakarta, 1986. Tinggal dan Bekerja di Jakarta.
Eddi Prabandono . Lahir di Pati. 1964. Tinggal dan Bekerja di Yogyakarta.
Erika Ernawan. Lahir di Bandung , 1986 . Tinggal dan bekerja di Bandung.
Michael Binuko . Lahir di Biak, 1982. Tinggal dan bekerja di Bandung.
Muhammad Villhamy. Lahir di Surabaya , 1990. Tinggal dan bekerja di Bandung.
Patricia Untario. Lahir di Jakarta, 1984. Tinggal dan Bekerja di Bandung.
Richard Streitmatter – Tran . Lahir 1972 di Bien Hoa ,(Vietnam) , Tinggal dan bekerja di Ho Chi Minh City ,Vietnam.
Wiyoga Muhardanto. Lahir di Jakarta, 1982. Tinggal dan bekerja di Bandung.
Yogie Achmad Ginanjar. Lahir di Bandung 1981.Tinggal dan bekerja di Bandung.
Yudi Noor. lahir di Bandung, 1971. Tinggal dan bekerja di Berlin.
Yuli Prayitno . Lahir di Bandung , 1974. Tinggal dan bekerja di Yogyakarta.
Zico Albaiquni. Lahir di Bandung, 1987. Tinggal dan bekerja di Bandung.
 
Kontak Hubungi
Nadya Aurora : +6287879034242
E-mail : mail.orbitaldago@gmail.com
FB Page : www.facebook.com/orbitaldago
Instagram : orbitaldago
 
______________________________________________________________________
 
Orbital Dago
 
Exhibition
 
“PERJALANAN SENYAP“ (A Quiet Journey)
 
Inaugural ceremony on 6 May 2017, 7.30 pm WIB
 
Exhibition open to the public: 7 May – 11 July 2017
 
Open every day from Tuesday to Sunday, 10.30 am to 7.30 pm WIB. Closed on Monday.
 
Orbital Dago.
Jalan Rancakendal Luhur No. 7. Bandung 40191
Map: https://goo.gl/maps/M6EUFjEvHVm
 
Orbital Dago is a contemporary art gallery newly opened in the North of Bandung, on Jalan Rancakendal Luhur.
 
Perjalanan Senyap (A Quiet Journey) is an exhibition marking the beginning of Orbital Dago, where thirteen artists offer their own interpretations of the text to Marina Abramovic and Ulay’s performance art piece Nightsea Crossing. Here, the aim is develop and translate the meanings and historical value of the Nightsea Crossing into contemporary visual expressions by artists who today live in a midst of a barrage of production and vortex of imagery. It also attempts to create a link with issues of authority and the identity of artists as individuals, as advocated by Modern Classicism which continues to this day.
 
Between 1976 and 1988, Marina Abramovic (b. 1946 in Beograd), and Ulay (b. Frank Uwe Laysiepen in 1943 in Solingen) were lovers and a pair of artists living and working together. Their collaboration is interesting to scrutinize, not only because it was founded upon absolute equality between the two artists—enabling them to transcend their own genius and contemplations through the history of art—but also because it allowed them to open up and share between art and life, private and public; it allowed re-negotiation. Their works and performances as lovers have become popular objects of study and scholarship in terms of aesthetics and the socio-political possibilities found in interpersonal relationships.
 
Nightsea Crossing is a set of twenty-two performances held between 1981 and 1987 in very different locations around the world. They had varied settings (often inside a museum but sometimes out in the open), dates, and even colors of clothing, but they always used the same mahogany table and two chairs. They described their performance thusly: “Nightsea Crossing is an epic 90 days work in which a period of fasting and silence is involved, prior to and during the actual performance. The performance consists of seven daily hours of concentration while sitting motionless in a state of tranquility”.
 
Today, their performances can only be accessed through photos, video recordings, and written reports. Photographic representation seemed more suited for Abramovic and Ulay’s works compared to ordinary documentation, and their presence was highlighted very clearly during an exhibition held at Galerie Michael Janssen in Berlin some time ago.
 
Documentation of various performance art projects—photographs, films and videos, or papers or concept documents by the artists themselves—are often collected and then crafted into exhibitions or publications. In some instances, museums and collectors even put a high price on these archives. Perhaps ironically, we remember that in the 1970s Gilbert and George, Marina Abramovic and Ulay pioneered the use of photography, graphics, and then sculptures as extensions of artists’ performances.
 
From explorations of the “documentational” possibilities to being a commercially-viable strategy to appease the collectors, they have dismantled the myth that a modern artist works alone, individually, uniquely, and self-centeredly. These traits are no longer believed as absolutes, as there are so many circumstances applied to or occurring along its borders. Art critic Kristine Stiles in her review on Performance (Nelson & Shiff, 2003: 88), noted that the production of contemporary art, including performance art, in the 1980s had introduced diverse works with diverse aesthetic forms, from production to presentation and even interpretation. Performance art thus became a category of visual display, providing a new zest into the commercial aspect of art (visual art).
 
At this exhibition, artists have been invited to approach and create conceptual juxtapositions or visual interpretations of the text to Marina and Ulay’s Nightsea Crossing.
 
The thirteen artists are:
 
Aliansyah Caniago. Born in Bandung in 1987, currently living and working in Bandung.
 
Dita Gambiro. Born in Jakarta in 1986, currently living and working in Jakarta.
 
Eddi Prabandono. Born in Pati in 1964, currently living and working in Yogyakarta.
 
Erika Ernawan. Born in Bandung in 1986, currently living and working in Bandung.
 
Michael Binuko. Born in Biak in 1982, currently living and working in Bandung.
 
Muhammad Villhamy. Born in Surabaya in 1990, currently living and working in Bandung.
 
Patricia Untario. Born in Jakarta in 1984, currently living and working in Bandung.
 
Richard Streitmatter-Tran. Born in 1972 in Bien Hoa, Vietnam. Currently living and working in Ho Chi Minh City, Vietnam.
 
Wiyoga Muhardanto. Born in Jakarta in 1982, currently living and working in Bandung.
 
Yogie Achmad Ginanjar. Born in Bandung in 1981, currently living and working in Bandung.
 
Yudi Noor. Born in Bandung in 1971, currently living and working in Berlin.
 
Yuli Prayitno . Born in Bandung in 1974, currently living and working in Yogyakarta.
 
Zico Albaiquni. Born in Bandung in 1987, currently living and working in Bandung.
 
Contact
Nadya Aurora : +6287879034242
E-mail : mail.orbitaldago@gmail.com
FB Page : www.facebook.com/orbitaldago
Instagram : orbitaldago