SEISMIC CITIES

19 – 29 April 2019

 

Constanza Alarcón Tennen (Chile)

Deni Ramdani (Ackay Deni) ( Indonesia)

Emma Critchley ( Inggris)

Sebastián Riffo Valdebenito (Chile)

 

Pembukaan : Jum’at 19 Maret 2019. Jam 19.00

Artist Talk : Kamis, 25 April 2019. Jam. 19.00

 

Di Orbital Dago

Jl. Rancakendal Luhur No. 7

Bandung- Indonesia

 Pameran Seismic Cities membuka percakapan antara 2 kota yang rentan gempa, yaitu Santiago di Chile dan Bandung. Keduanya baru-baru ini menemukan sesar aktif yang melintasi atau berdekatan dengan masing-masing kota. Walaupun kedua sesar tersebut belum menyebabkan gempa besar selama beberapa tahun terakhir, mereka masih tetap menjadi ancaman bagi kedua kota dan para penduduknya. Bagi para seniman di Santiago, pengalaman mereka menghadapi gempa bumi pada tahun 2010 sangat membekas sehingga mereka mendedikasikan seluruh karya seni mereka pada subjek gempa. Kita juga dapat melihat karya baru oleh seniman lokal dari Bandung, yaitu Ackay Deni. Beliau mendasari karyanya pada Sesar Lembang yang berdekatan dengan desanya.

Pameran Seismic Cities ini adalah sebuah undangan untuk membagikan cerita tentang topik gempa yang dianggap tidak penting oleh banyak orang. Bagaimana seseorang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang mungkin tidak akan terjadi dalam kehidupannya, tetapi di saat yang bersamaan dapat terjadi kapan saja? Berasal dari berbagai negara, bahasa, dan disiplin ilmu, para seniman di pameran Seismic Cities mengeksplorasi hal-hal yang melebihi apa yang kita lihat di sekitar kita. Masing-masing seniman bekerja dengan topik gempa bumi dengan cara yang unik, yaitu dengan memanfaatkan pengetahuan mereka terhadap tempat atau pengalaman tertentu. Bagi mereka, gempa bumi dipahami sebagai sesuatu yang mendalam dan intim; juga dipahami sebagai pengingat hubungan kita yang saling ketergantungan dengan lingkungan yang kita huni. Para seniman menggunakan proses artistik untuk mempertanyakan dan memaknai bagaimana fenomena ini dan potensinya membentuk perilaku dan pemikiran sosial, politik dan budaya.

Pameran ini adalah bagian dari Proyek Seismic Cities, yaitu sebuah proyek penelitian interdisiplin. Gagasan dibalik ini cukup sederhana: bahwa ada banyak orang yang tidak tahu bahwa mereka hidup di jalur patahan aktif, tetapi perlu mempersiapkan diri untuk kemungkinan gempa. Contohnya seperti di Bandung, hal ini terjadi karena Sesar Lembang baru – baru ini ditemukan aktif .

Sebuah tantangan yang besar adalah meningkatkan kesadaran masyarakat sambil memperbaiki rencana untuk pengurangan dampak bencana. Beberapa hambatan untuk meningkatkan ketahanan terhadap potensi gempa bumi dan masalah terkait seperti tanah longsor dan likuifaksi adalah faktor ekonomi, contohnya, karena tidak memiliki uang yang cukup untuk memperkuat rumah dan bangunan umum. Hambatan lain bersifat psikologis, contohnya ketidakinginan untuk terlibat dengan potensi bahaya. Selain itu, faktor sosial juga menghambat, seperti masalah kemiskinan dan kesenjangan.

Tantangan – tantangan itu tidak dapat ditanggapi dengan menggunakan satu pendekatan ilmiah saja. Contohnya, ilmu geologi dapat memberikan informasi penting tentang Patahan Lembang, tetapi penting juga untuk menambahkan disiplin ilmu lain seperti ilmu sosial dan penerapan dari seni dan humaniora. Cara penelitian interdisiplin ini menjanjikan karena menggabungkan lebih dari satu pendekatan untuk memberdayakan masyarakat dan menciptakan solusi jangka panjang yang berkelanjutan. Kami berharap bahwa pekerjaan Seismic Cities dapat menjadi langkah pertama menuju masa depan itu bagi masyarakat di Lembang, dan pada akhirnya seluruh Indonesia.

 

Tentang Para Seniman:

Deni Ramdani (Ackay Deni) adalah seorang seniman pertunjukan dan instalasi yang tinggal dan bekerja di Bandung, Indonesia. Tema alam merupakan salah satu fokus utama dalam karyanya. Dampak percepatan pembangunan di lingkungannya telah menantang Ackay untuk terus memperdalam dan mengeksplorasi pekerjaannya, dan advokasi. Baru-baru ini, dengan menggunakan wilayah Bandung sebagai laboratoriumnya, dia bekerja mengeksplorasi fenomena perubahan sosial, politik, budaya.

Constanza Alarcón Tennen adalah seniman multidisiplin yang tinggal dan bekerja di Santiago, Chile. Karyanya meliputi berbagai media, antara lain: instalasi suara, video, patung dan pertunjukan. Prakteknya adalah tanggapan terhadap ideologi informasi, data, dan politik hegemonik. Dalam beberapa tahun terakhir, salah satu fokus utamanya adalah bekerja dengan pengalaman gempa bumi, khususnya ingatan terhadap suaranya . (www.alarcon-tennen.com).

Sebastián Riffo Valdebenito adalah seniman visual yang tinggal dan bekerja di Santiago, Chili. Ia memiliki gelar PhD di bidang Seni dari Pontificia Universidad Católica de Chile (PUC) dan Sarjana Seni, juga dari PUC. (www.sebastianriffo.cl)

Praktek seni Emma Critchley meliputi fotografi, film, suara, dan instalasi. Karyanya meneliti ambang dan batasan tubuh, lingkungan, darat dan air. Proyek – proyeknya berkembang dari penelitian dengan akademisi dan spesialis mulai dari ahli biologi laut dalam hingga ahli geografi manusia dan digabung dengan pendekatan artistiknya sendiri. Dia tinggal dan bekerja di Brighton, Inggris. (www.emmacritchley.com)

 

ENGLISH

 Seismic Cities opens up a conversation between Santiago, Chile and Bandung, Indonesia. Both have recently discovered active fault lines, which run through or border the city. Despite the fact these faults haven’t triggered a major earthquake in recent history, they remain an underlying threat to the cities and their inhabitants. For the artists in Santiago, their experience of an earthquake in 2010 has been so profound they have dedicated their artistic practice to the subject. From Bandung, we see newly commissioned work by local artist Ackay Deni who has made a response to the Lembang Fault, which adjoins his village.

This exhibition is an invitation to share stories about a topic that is not perceived by many as urgent due to its somewhat ineffable nature. How can one prepare for something that may not happen in someone’s lifetime yet has the potential to occur at any moment? Crossing nations, languages and disciplines the artists in the Seismic Cities exhibition examine what lies beneath the merely visible. Each of them deals with the subject of earthquakes in a unique way, by drawing on their knowledge of a specific place or experience. The earthquake is conceived as something visceral and intimate; a natural event that serves as a reminder of our inter-dependent relationship with the landscape we inhabit. With an awareness of how this phenomena and its potential can shape social, political as well as cultural behaviour and thinking, they use artistic process as a tool to question and make meaning.

 The exhibition is part of the wider Seismic Cities Project, an interdisciplinary research project. The idea behind which is important but simple: there are many places in the world where people do not know that they are living on or near an active fault line, but need to prepare for a possible major earthquake. In some cases, such as Bandung, this is because the Lembang fault was only recently discovered to be active.

 A major challenge is to increase community awareness whilst building on and improving existing plans to reduce the impact of a large earthquake. Some of the barriers to improving resilience to potential earthquakes and related problems such as landslides and liquefaction are economic; there isn’t enough money to strengthen houses and public buildings. Other barriers are psychological, people not wanting to engage with the potential dangers; and social, such as existing problems of poverty and inequality, which are important but not being addressed.

 Such challenges cannot be responded to by using only one scientific approach. While the natural science of geology provides valuable information about the Lembang fault, for example, it is important to add other disciplines, such as the social sciences and practices from the arts and humanities. This kind of interdisciplinary research is promising because it combines more than one approach to empower people and create long-term, sustainable solutions. We hope that our Seismic Cities work is a first step towards that future for communities in Lembang, Bandung and, eventually, throughout Indonesia.

 Artists

Deni Ramdani (Ackay Deni) is a performance and installation artist, living and working in Bandung, Indonesia. The theme of nature is a main focus in his work. The impact of accelerating development in his neighborhood has challenged Ackay to continue to deepen and explore in his work and advocacy. More recently, using the Bandung region as his laboratory, his work explores the phenomenon of social, political, cultural change.

 Constanza Alarcón Tennen is a multidisciplinary artist, living and working in Santiago, Chile. Her work includes sound installations, videos, sculptures and performances, among other media. Her practice is a response to ideologies of information, data and hegemonic politics. In recent years, one of her main focuses has been working with the experience of earthquakes, specifically with the memory of their sound. (www.alarcon-­tennen.com)

 Sebastián Riffo Valdebenito is a visual artist who lives and works in Santiago, Chile. He holds a PhD in Arts from the Pontificia Universidad Católica de Chile (PUC) and Bachelor of Arts, also from the PUC. (www.sebastianriffo.cl)

 Emma Critchley’s practice spans photography, film, sound and installation. Her work examines boundaries and thresholds of the body, environment, land and water. Projects evolve from focused research with academics and specialists ranging from deep-sea biologists to human geographers, combined with her own artistic approach. She lives and works in Brighton, UK. (www.emmacritchley.com)